Dandelion Biru

Dandelion Biru

  • 22nd October
    2014
  • 22
hari ini awan menjelma menjadi mataku, menampung hujan kemudian akan dijatuhkan, menjadi rintik-rintik rindu ; untuk menemukanmu
ceritanya lagi nangis
  • 22nd October
    2014
  • 22

numpang spam!

Kesallll!!!!!
Gondok!!!!!!
Pengen nangis!!!
Pengen bunuh orang!!!!
Pengen guling-guling di tanah!!!!
Pengen teriak!!!
Aaaaaaaa!!!!

Pinjemin buku sama orang, gilran ditagih nanti-nanti, kemaren janji hari ini mau dibalikin. Eh, rupanya gak jadi, alasannya gak dikasih tau, padahal butuh banget bukunyaaaaaaa, udah gitu disindir di sosmed, udah gitu dia yang ngerasa dizolimin. Sadar wooyyy!!!

Berantem sama kawan dekat gara-gara tulisan. Dan dibilang gak ngertiin dia, padahal udah banyak banget ngalah dan diemnya. Setiap ngelakuin apa-apa pasti salah di mata dia. padahal udah banyak ngalah dan diemnya, tapi kenapa selalu dibilang gak bisa ngertiin maunya.

Gak jadi pergi ke kampus gara-gara motor dipakek. Padahal udah semangat karena baru sembuh, padahal udah siap-siap mau pergi ke kampus!

Kena iqob (hukuman) karena gak nyetor tilawah beberapa hari. Padahal kemaren-kemaren udah lapor izin sakit tapi gak direspon.
yaAllaah…

Astaghfirullaah…
Salah apa saya…
Sabar!!!!
Pengen nangis tapi udah banjir air mata duluan
Pengen teriak takut disangka udah frustasi (padahal emang iya)
mau marah juga percuma nanti yang ada malah makin parah.

Aaaaaa!!!!!
Ibuk!!!!!
Daaaaa!!!!
Hiks hiks hiks…
Gak suka orang yang gak tepat janji
Gak suka dicuekin
Gak suka gak suka…

Kalo aja bisa tinggal dihutan atau di pantai yang gak berurusan sama banyak orang. Emang ya yang ngerti diri kita sendiri ya cuma kita sendiri bukan orang lain. kita ngertiin orang lain pun belum tentu orang lain ngerti sama kita. makanya jadi orang jangan terlalu baik sama orang lain. jangan terlalu ngalah, jadinya kalau perlu gini deh. dibaikin malah ngelunjak, gak dibaikin nanti dikira jahat. padahal cuma minta hak doank. dia gak bayangin kalo di posisi kita gimana. Biasanya juga diginiin tapi udah sabar-sabar, yang sekarang udah pengen nangis aja. akhirnya cuma bisa numpahin ke tulisan. bodo orang yang baca mau bilang apa.

  • 21st October
    2014
  • 21
Orang bakhil sering menyangka rizqinya bisa dikira-kira, sedangkan orang yang bertaqwa yakin jika rizqinya akan datang dari arah yang tak disangka-sangka.
jangan mempersempit makna rizqi, padahal keringanan langkah kita ke tempat yang kita tuju pun suatu rizqi. bila kita mau berpikir
  • 21st October
    2014
  • 21
Barang siapa yang memperbagus hal-hal tersembunyinya, niscaya Allaah akan jelitakan apa yang tampak dari dirinya. Barang siapa memperbaiki hubungan dengan Allaah, niscaya Allaah baikkan hubungannya dengan sesama. Barang siapa yang disibukkan dengan urusan agamanya, maka Allaah yang akan mencukupinya dalam perkara dunia.
Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz
  • 21st October
    2014
  • 21
Barangsiapa yang hanya bersahabat dengan orang yang (menurutnya) tidak tercela, akan sedikit sahabat yang dimilikinya. barangsiapa yang hanya mengharapkan keikhlasan dari sahabatnya, ia akan selalu mendongkol. Dan barangsiapa yang mencela sahabatnya atas setiap dosa yang dilakukan mereka, dia akan banyak memiliki musuh.
Siyaru A’laamin Nubalaa’ IV:557 (via air-sunyi)
  • 20th October
    2014
  • 20
  • 20th October
    2014
  • 20
  • 20th October
    2014
  • 20
Pertanyaan Mainstream

herricahyadi:

Orang yang menunda pernikahan, bisa jadi dia sedang merintis sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar menikah. Jadi berhentilah bertanya “kapan nikah?”. Itu pertanyaan mainstream yang—menurut hemat saya—hanya basa-basi yang tidak terlalu penting.

Cobalah ganti pertanyaan itu dengan “Kapan

😁 😁 😁

  • 20th October
    2014
  • 20

Prolog : biji kopi

“jika kau menjadi istriku nanti, pahami aku saat menangis
Jika kau menjadi istriku nanti, jangan pernah berhenti memilikiku
Hingga ujung waktu…

Sheila On 7 – Hingga Ujung Waktu

“apa perbedaan saya dengannya?”
Aku hanya terdiam sambil berkonsentrasi pada pekerjaanku. Bukan aku tak mempedulikan pertanyaanmu, namun harus kuakui aku tak tau harus menjawab apa. Ini sudah keenam kalinya kau bertanya hal serupa, enam kali pula kau sabar ketika aku hanya melirikmu sebentar lalu kembali ke pekerjaanku.

Kau tahu, aku memang punya masa lalu. Sebelum aku bersamamu, menjadi pendampingmu sekarang. Usia pernikahan kita memang masih seumur jagung. Tapi untuk masalah memahami kau sudah lebih unggul dariku. Ketika kau bertanya hal itu aku berusaha berhenti untuk menjadi yang dimengerti olehmu.

“kenapa nanya itu lagi? Masih ragu sama saya?”
Aku berusaha setenang mungkin dengan senyum yang kupersembahkan khusus untukmu. Senyum 2cm yang kau bilang adalah senyum termahal milik istrimu.

“bukan, dek. Cuma penasaran. Karena saya lihat tulisanmu di blog dan di majalah selalu tentang sosok lelaki itu. Kalau dibandingkan dengan saya mah jauh”

“penasaran kok sampai berkali-kali” lalu aku menjulurkan lidah ke arahmu. Mengejekmu yang mulai tak suka dengan alur pembicaraan kita.

“namanya juga penasaran”

“penasaran atau cemburu?”

“maunya???”

“hmmm… mau minum kopi di luar. Sumpek nih di ruang kerja. Boleh yaa„, nanti di sana saya cerita deh”

“hmmm… gimana ya, uang saku saya sudah habis Dek. Kalau pakai uang kamu lagi, nanti takut uang belanja kita kurang”

“kalau kurang minta lagi sama Allaah, kan Allaah maha kaya. Hehehe”

“serius saya…”

“saya juga serius, Da. hihihi” aku mengakhiri rengekan dengan tersenyum. 10 menit kemudian kita sudah bersiap untuk pergi ke kedai kopi langganan yang ada di pinggiran kota. Kau mengeluarkan motor besarmu dari bagasi, lalu aku mengambil jaket. Udara malam ini memang cukup dingin,benar juga aku mengajakmu minum kopi.

Setengah jam waktu yang kita tempuh untuk ke kedai kopi ini. Kau sengaja memperlambat laju motor agar aku tak merasakan dingin dan kita dapat menikmati malam di jalanan. Sampai di kedai kopi yang agak sepi kita menempati meja nomor 8. Pelayan datang dengan senyuman dan mempersilahkan kita memesan makanan dan minuman yang ada di menu. Tak banyak berpikir aku langsung memesan kopi tiramisu dan kau memesan kopi hitam manis. Kita memang penggemar kopi yang akut, namun berbeda selera.

“jadi, dia itu hanya masa lalu saya” aku membuka pembicaraan dengan hati-hati. kau menyimak dengan wajah penuh pertanyaan.

“terus?”

“saya memang pernah mengaguminya. Waktu itu saya masih SMA. Namun dia sudah meninggal dunia 6 tahun lalu. Di 6 tahun itu saya tak punya siapa-siapa yang bisa saya ajak untuk berbagi. Saya menulis tentang dia hanya ingin menjadikannya sebagai cerita. Suka atau tidak dia tipe pria yang nyaris sempurna menurut saya. Dia yang mengenalkan saya pada Tuhan, kebaikan, dan kekuatan hidup. Jika bukan karena Allah yang mentakdirkan dia singgah di hidup saya mungkin saya masih ada di rumah sakit. Dia juga pernah mendonorkan tulangnya untuk dicangkok di tulang saya yang terkena kanker. Tapi kayaknya Tuhan pintar memilih hamba yang tak ingin Dia lihat berlama-lama di dunia. Dia meninggal ketika bertugas ke Libanon, liputan perang. Ia terkena bom nyasar. Dan tubuhnya hancur sampai gak dikenali, satu-satunya tanda kalau mayat itu dia adalah potongan baju journalist yang dia kenakan. Da, apa saya salah mengembalikan dia lagi ke dalam cerita? Saya hanya ingin berterima kasih padanya. Semoga tulisan saya menjadi amal jariyah untuknya”

Di saat aku berusaha menjelaskan kopi yang kita pesan datang. Aroma tiramisu dan cream vanilla membuat pikiranku tenang. Sedang kulihat sekilas kau masih diam di depanku. Apa aku salah bicara? Pikirku.

“Dek, maafkan saya yang kerap kali bertingkah gak jelas kayak tadi. Iya, saya memang cemburu. Tapi sekarang saya sadar cemburu saya gak pantes kalo dibandingin sama ceritamu. Dia sudah memberimu apa yang adek butuh butuhin, sedangkan saya? Bekerja pun saya masih mencari, hasil dari fotografer ini belum cukup untuk memenuhi keluarga kita, malah adek yang lebih sering nombok dengan jadi penulis di majalah dan buat buku. Saya malu, dek”

Ini yang kusuka dari dirimu, Da. Bisikku pelan. Aku tersenyum sambil menggenggam erat tanganmu. Keluarga kecil kita masih membutuhkanmu. Kau tak tahu betapa aku begitu mencintaimu dari hari ke hari, betapa aku ingin ke syurga bersamamu kelak. Aku dengan segala kekuranganku yang 6 bulan lalu kau lamar dengan kesungguhanmu, mau menerima segala kelemahan dan cacatku.

Semoga berkahNya melimpah di keluarga kecil kita, Da. Tentang persamaan dan perbedaan itu, kuharap kau bisa memaklumi kepolosan cara pandangku. Kalian memang sama, namun berbeda. Dia tidak sepertimu, karena kau sekarang suamiku.

Tak sadar aku meneteskan air mata. Aku begitu cengeng bila dihadapkan pada situasi seperti ini. Aku pun masih belum sempurna menjadi istri buatmu. Belum bisa memberimu malaikat kecil yang nanti akan menghiasi rumah senja kita. Belum bisa melayanimu dengan sempurna karena penyakitku yang kerap kali datang tiba-tiba. Belum bisa membantumu mengatasi masalah pekerjaan kita. Kupikir di Indonesia tak terlalu sulit untuk menempatkan Sarjana Pertanian sepertimu. Hanya tinggal menunggu waktu, insha Allaah.

“da, kopinya minum tuh. Nanti saya habisin baru tahu. Hehe”

“lah, emang suka kopi hitam? Weeee…”

“iya gak sih. Haha”

Sabarlah, Da. Ketika sakinah sudah kita raih dengan pernikahan ini, maka insha Allaah wadah dan rahmah nya akan menyusul bersama ikhtiar dan doa yang terpanjat mesra padaNya…


Ruang Pucat, saat tak bisa terpejam karena sakit.

  • 19th October
    2014
  • 19

Di Ruang Pucat Jilid 7 : Aku melepasmu

untuk sekarang, biarlah kedua burung itu terbang ke manapun mereka suka. hinggap di manapun mereka ingin. berjauhan, tidak saling bertemu di senja setelah seharian berkelana.

semua sudah digariskan Tuhan, maka seharusnya tak perlu ada pinta yang berlebihan. apa yang akan kembali sejauh manapun pergi akan tetap berbalik arah dan pulang ke rumah. pasti akan ada cemas dan harap yang menghampiri. hanya salah satu ataupun keduanya.

peristiwa-peristiwa singkat kemarin biarlah menjadi kenangan di genangan hujan, membiaskan doa dan menguapkan keraguan. untuk nanti, ketika embun membeningkan pagi, atau ketika senja terlihat sangat jingga.