Dandelion Biru

Dandelion Biru

  • 30th September
    2014
  • 30

pada akhirnya yang kita ingat bukan seseorang, tapi kenangan…

Kuharap kau tak terkejut dan marah dengan tulisanku yang ini. Karena di kepalaku semuanya mau pecah. Aku hanya tipe orang yang tak suka berbasa-basi dengan orang asing di hidupku. Tak pandai pula menyimpan sesuatu. Aku hanya ingin bercerita, itu saja.

Kau, sadarkah telah begitu mirip dengan seseorang dari masa laluku. Hha„, kedengarannya mungkin sangat konyol, kan? Tapi itulah yang kuhadapi. Walau aku belum pernah bertemu denganmu walau sekali.
Mau kutunujkkan beberapa bukti?

Kau suka bubur kacang hijau kan?
Kau suka memotret?
Bersuku minang?
Ayahmu sudah tiada?
Kau suka kopi?
Kau suka senja?
Diapun sama…

Mungkin jika itu kesamaannya aku takkan ambil pusing. Tapi kalian berdua lebih dari itu. Cara bicara, gaya bahasa, bahkan kucoba ceritakan satu kisah jawaban kalian sama. Satu persatu statusmu yang jarang itu terlalu sama dengannya. Membuatku pusing bila kau muncul, tapi bila kau tak muncul alam sadarku mencarimu. Kurasa aku sudah mulai gila. Entahlah…

Akhir-akhir ini aku diam-diam mngetik-ngetik namamu di internet. Tak satupun kutemukan tulisan dari blogmu yang lain. Sampai pada saat kau berikan aku laman tumblrmu, dari situ aku bisa simpulkan nama apa yang sering kau pakai di dunia maya. Ternyata benar, ada. Dan alangkah kagetnya aku tahu bahwa Z*h*d Rabb*ni itu adalah milikmu. Badanku seketika lemas, keyboardku basah. Kau takkan percaya nama blog yang kau pakai itu adalah juga bagian namanya yang artinya Zuhud.

Pertanyaanku, sebegitu miripkah Allaah takdirkan orang yang sama walau tidak secara fisik? Dan anehnya orang itu punya pengaruh terhadap hidup seseorang. 3 hari ini aku hanya bengong, tak tahu harus berbuat apa. Menyalahkanmu karena datang ke kehidupanku dan mnegacak-ngacak semua? Atau harus marah pada diri sendiri karena terlalu rapuh untuk masalah hati.

Maaf Tuan, tapi aku terlalu takut untuk kembali kehilangan. Kau dan dia belum bisa membuatku bangkit dari dunia fikiranku sendiri. Pengaruhnya di hidupku sangat besar. Begitu pula hadirmu yang kini sedang seperti obat sehari 3x singgah di pikiranku. Awalnya aku tak ingin menceritakan ini denganmu, tapi kau berhak tahu sebelum aku menjadikanmu dia.

Jujur, saat kau ada senyumku kembali sedikit demi sedikit tanpa kau sadari. Tingkah konyol dan tiba-tiba menghilangmu itu bisa membuatku berubah diam dan ceria 180’. Aku hanya minta tolong, tolong beritahu apa yang harus aku lakukan.

Aku sudah sekali kehilangan, dan tak ingin kembali merasakan… hidupku masih panjang, atau terlalu pendek jika harus kembali merasakan patah, jatuh, dan kehilangan lagi. satu pintaku, jangan tiba-tiba pergi dan menghilang. tetaplah di sana, di tempat yang bisa dilihat burung sepertiku. atau bila kau bersedia menjadi teman siulku yang sunyi, aku dengan senang hati menerimamu…

Maaf…

Akhir September

  • 21st September
    2014
  • 21

jodoh(?)

13 Juli 2014
Kau mengkomentari status bbm ku. Mungkin kau sedang geram waktu itu. Kelihatan dari pernyataan ketidak setujuanmu tentang apa yang kutulis. Kukira itu juga wajar jika melihat tipe pria seperti apa dirimu. Awalnya aku hanya mengira itu salah paham dan aku mencoba meluruskan kembali pernyataanku di status itu. Namun kukira kau malah memilih menyudahi dengan berkata “ya mbak, saya paham”.

Lalu jeda. Tak ada interaksi apapun antara kau dan aku.

15 Agustus 2014
Statusku : “karena bersamamu nanti, senja tak pernah sederhana. Luruh ke bumi, lalu menjadikannya cinta”
Komentarmu : “hebat kata-katanya :D”

Lalu kubalas dengan tertawa. Padahal diwaktu yang sama aku bingung.
Kukira kau sudah menghapusku dari daftar pertemananmu. Terima kasih

17 September 2014
“offline, dan beristirahatlah… ”
Tiba-tiba kau muncul lagi dan mengaku statusku sama dengan status WA seseorang yang kau kenal. Kalau gambar profilku diganti pasti sama persis dengan miliknya. Aku hanya mengira itu kebetulan, tentu saja dengan skenario Tuhan. Lalu aku mencoba bercanda dan berkirim salam padanya, siapa tahu kami jodoh. Tambahku. Kau hanya tertawa dan bilang salam sudah tersampaikan. Jujur aku terkejut karena begitu cepat kau menyampaikannya. Tapi… sudahlah. Saat itu aku hanya sedang sangat lelah oleh semua kesibukan yang kukacaukan sendiri, jadi aku menulis itu berharap orang-orang yang mendesakku mengerti dan membiarkanku bernafas sejenak.

19 September 2014
Aku mengganti gambar profil yang sama dengan seseorang yang kau bilang status kami sama sebelumnya. Aku mulai curiga kau mengada-ngada. Lagipula temanku yang menggantinya dengan dalih “bajak bbm”

“kok bisa sama lagi ya?” *terpukau
“ini apa terpukau-terpukau. Saya terkejut”
“jangan-jangan kalian memang… ah sudahlah…”
“sama apanya emang? Statusnya lagi ya?”
“iya. Kemaren statusnya sama. Sekarang foto profil nya. Amazing bener.”
“dibajak temen”
“temannya jago, bisa nyambung gitu”
“emang yang sama dengan saya laki-laki?”
“bener”

Tak percaya, akupun memintamu untuk menunjukkan bukti. Lalu kau mengirimku gambarnya. Dan benar, status dan gambar kami sama. Tapi yang membuatku tertawa nama yang ada di sana, GUA. Kopi yang kuminum di sebuah kedaikopi kecil pun tumpah karena tertawaku menyesak di tenggorokan. Temanku bingung melihatku terbahak padahal jilbabku sudah kotor dan bau kopi. Tapi aku tak peduli, nama itu membuatku kembali merasakan tawa diantara deadline yang memaksa urat tawaku pengangguran sesaat. Tapi kau mengeluarkannya lagi. Terima kasih, batinku pelan.

Statusmu : “bbm-wa bias nyambung gitu… #LDRtingkatexpert”

Itu pula alasan kenapa aku tidak cepat berpikir kalau yang kau maksud “Gua” itu adalah kau sendiri. Kau bilang jelas namanya, aku tak melihat nickname BBM mu, jadi aku masih mengira bahwa itu masih orang lain (siapa suruh diawal mengaku itu bukan dirimu). Mungkin kau merasa sangat geram waktu itu, aku tak tahu, maaf. Di sini aku hanya sangat lelah dan gugup karena pada hari itu aku harus presentase hasil makalah di depan boss ku, sedangkan esok harinya aku harus mengadakan seminar skripsi. Otakku mungkin sudah tidak menangkap signal yang kau kirimkan. Maaf.

“karena Gua itu saya, ana, ambo…”
“Oh jadi Gua itu H = A.H?”

Tapi aku kembali menyangkal semua hal yang kau bilang sama, bisa jadi kau mengubah status dan gambarmu saat itu juga. Lalu menyetel waktu di handphone agar tertera tanggal 5 September. Lagi-lagi mungkin kau geram melihat pernyataanku. Aku hanya merasa ini canda, tapi siapa yang sudi bercanda dengan wanita pendiam dan aneh sepertiku?. Kau merasa tersudutkan, aku merasa terhibur, tertawa lepas lagi. Aku hanya berpikir ini salah satu cara Allaah menghibur otak dan hatiku yang sedang kusut. Walaupun kau datang di saat yang tak tepat, tapi takdir Allaah selalu tak meleset.

Aku bertanya dalam hati, “inikah jodoh itu?” maksudku kita dipertemukan oleh orang lain secara ajaib. Aku bahkan tak mengenalmu sama sekali. Kau tiba-tiba ada di daftar kontakku, lalu kau muncul tiba-tiba dan bilang ini itu tanpa memberi jeda otakku berpikir.
Esok paginya statusku tentang kebaikan dan keburukan kau bilang kembali sama dengan yang pernah kau tulis. Aku tak tahu kau menulisnya di mana dan kapan. Kau tahu pagi itu, jam 7 pagi aku harus seminar skripsi dan kau kembali datang dengan ketidakpercayaanmu tentang kata-kata kita yang kembali sama. Kau pikir jiwaku sedang sehat? Aku hanya menyembunyikan kekesalanku padamu karena “mengganggu” konsentrasi seminarku, tapi entah kenapa aku terus melayani setiap pesanmu sementara dosen di depanku sedang beradu argument denganku dan berkeringat karena skripsiku yang rumit. Tapi aku malah membalasmu. Kau berhutang padaku, hutang kekesalan!

Pagi ini, aku menuli singkat tentang hujan. Aku merindukan seseorang yang sekarang entah di mana. Hujan selalu memulai cerita kami dengan menanyakan kabar di tempat masing-masing. Aku menangis tipis bersama rintik, rinduku berubah menjadi sebuah doa untuknya. Lalu kau datang lagi dan bilang kata-kata itu, kata-kata yang kutulis di berandaku adalah kata-kata hebat. Ku tahu itu sama dengan yang pernah kau tulis juga. Tapi kapan? Di mana? Aku tak pernah tahu dan belum ingin tahu.

“eh, hujan di sana? Deras?”
“iya”

2 potong percakapan ini yang membuatku terkejut. Kini aku yang terkejut dengan pertanyaanmu. Beruntungnya aku tak terlalu larut dan menyambung kata “iya” dengan kata lain yang biasa kuucapkan pada seseorang dulu. Tapi aku perempuan, terlalu sederhana untuk tidak mendramatisir semua. Aku juga tak peduli kau berpikir apa tentang aku.

Aku, perempuan rumit tak suka dengan panggilan “mbak”, tak suka percakapan yang menggantung, tak suka ketiba-tibaan dan teka – teki. Kau tahu? Aku hanya punya 8 orang teman lelaki di bbm (yang kukenal kecuali kau) dari 54 temanku. Aku hanya tak suka bercengkramah di sosial media pribadiku dengan pria asing (sepertimu, dulunya)

Tapi…
Tiba-tiba kau ada
Marah
Memuji
Menyapa
Membuat bingung dan kesal
Lalu membuatku bertanya,

Takdir, hal yang pernah tak kupercayai. Tapi dengan kejadian yang cepat ini aku kembali menanam percaya bahwa skenario itu ada. Semua sudah diatur(Nya). Ya, akhirnya aku tahu jodoh itu seperti apa walau mungkin kita bukanlah termasuk di dalamnya. Terlalu cepat untuk menyimpulkan semuanya, dan bersikap berlebihan atas apa yang terjadi.

kuharap, jangan sampai kau membuatku menanti, kembali merasa aku masih punya hati, Jangan sampai kau yang membuatku kembali merasa apa yang belum ingin kurasakan (lagi). Jika nanti ada yang sama lagi, aku akan anggap itu gerakan hati dari NYa agar tetap yakin pada takdir.

Akupun tak paham pada diriku sendiri kenapa tetap membiarkanmu berada di daftar kotakku. Mungkin juga karena aku hanya memliki 3 akun, di BBM, WA, dan blog pribadiku. Tapi aku akan membiarkanmu tetap di sana, menjadi salah satu teman di sosial media ku, karena kupikir berkat kau aku jadi bisa mengubah kebiasaan menutup diriku pada lelaki asing. Tentunya masih dalam koridor yang sehat.. Terima kasih

oh, iya… Aku hanya tahu satu-satunya kesamaan kita, kopi.


September teduh, 2014

  • 20th September
    2014
  • 20

Thought via Path

Karena air mata bukan berarti tanda kesedihan. Ia tanda kalau hati kita belum mati. Nah, Sebaik-baik tangisan karena resah telah banyak lalai beribadah. Jangan sampai hati kita mati, makanya salah satunya segerakan (ibadah) menikah… :D :D – Read on Path.

  • 20th September
    2014
  • 20
#InstaMagAndroid blue is the colour. Chelsea is the game. 😎judulnya jaket baru setelah sekian lama sama si biru tua. Sekarang saatnya sama si putih langit :D 
Yes, Sir. I’m chelsea’s girl x)

#InstaMagAndroid blue is the colour. Chelsea is the game. 😎judulnya jaket baru setelah sekian lama sama si biru tua. Sekarang saatnya sama si putih langit :D
Yes, Sir. I’m chelsea’s girl x)

  • 20th September
    2014
  • 20
Karena merasa takut kehilangan adalah tanda bahwa kita kurang menguatkan iman…
  • 19th September
    2014
  • 19
  • 19th September
    2014
  • 19
Karena kita tak pernah tahu, dengan kebaikan - kenaikan apa Allaah menghinakan kita. Dan dengan keburukan-keburukan apa Allaah memuliakan kita.
  • 19th September
    2014
  • 19
Iman itu ada 70 atau 60 cabang, yang paling utama adalah ucapan Laa Ilaaha IllaLlah sedangkan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalanan. Dan rasa malu merupakan bagian dari iman.” (HR. Muslim)
  • 19th September
    2014
  • 19
berusaha mencerminkan matahari. mencintai namun takkan mendekati, merindu walau tak bisa bertemu…
:)
  • 18th September
    2014
  • 18
(Mungkin) bagi sebagian besar orang ini menakutkan. Namun bagi sebagian kecil ini adalah cita2 terbesarnya; berHIJAB sempurna. Bismillaah…

(Mungkin) bagi sebagian besar orang ini menakutkan. Namun bagi sebagian kecil ini adalah cita2 terbesarnya; berHIJAB sempurna. Bismillaah…